Tirana: Break Free from Communist Past

Not many people can tell much about Albania and its capital Tirana. The country, once isolated from the rest in the communist era, has undergone the massive changes in the past two decades. One day in Tirana surely isn’t much, but it’s enough time to learn a bit about its, at times, rough past. Because beneath the noise, the youth and colour of modern Tirana, lie the buried remains of another place altogether: a planned totalitarian city, the forgotten capital of Communist Albania. One significant difference between Albania and other Balkan countries was, of course, all the bunkers. Communist Albania built more than 173,000 bunkers – an average of 5.7 per square kilometre or roughly one bunker per every four Albanians. The idea was that if the country were ever invaded, the population itself could be weaponised; everybody taking a rifle and retreating to their nearest reinforced firing position. Also, some bunkers were made as nuclear bomb shelters.

Tidak banyak cerita mengenai Albania dan ibukotanya Tirana. Negara yang pernah mengisolasikan dirinya dari negara lain pada era komunis ini telah mengalami perubahan besar dalam dua dekade terakhir. Satu hari mungkin terdengar singkat, namun cukup untuk belajar sekilas tentang sejarah Albania. Karena di bawah keceriaan dan warna-warni modern Tirana, terkubur sisa-sisa dari sebuah kota totaliter: ibukota Komunis Albania yang terlupakan. Satu perbedaan signifikan antara Albania dan negara-negara Balkan lainnya adalah bunker. Pada era komunis, Albania membangun lebih dari 173.000 bunker – rata-rata 5,7 per kilometer persegi atau sekitar satu bunker untuk setiap empat penduduk Albania. Alasannya, jika negara ini diserbu, semua penduduk dapat dijadikan senjata dapat mengambil ke posisi penembakan terdekat. Sebagian bunker juga dibangun sebagai tempat penampungan jika terjadi bom nuklir.

During the 20 century, in the communist era, the city of Tirana and the country of Albania were under a strict rule of Enver Hoxha. During that time, the country has been isolated for half of the century. Upon the death of the Dictator, the country started to open its borders, although it was still a long way before the country became to what it is now. Albania didn’t have many political allies towards the later end of its communist period. It was less progressive than its neighbours; when the rest of the Eastern Bloc began tentatively opening its doors to Western imports and tourists, Hoxha’s Communist Albania clung to dogmatic values of totalitarianism that had changed very little since Stalin was still in office.

Selama abad ke-20, di era komunis, kota Tirana dan negara Albania berada di bawah kekuasaan Enver Hoxha. Selama masa itu, negara ini terisolasi selama setengah abad. Setelah kematian sang diktator, Albania mulai lebih terbuka, namun masih panjang perjalanan Albania untuk mencapai keadaan seperti sekarang. Menjelang akhir era komunisnya, Albania tidak memiliki banyak sekutu politik dibandingkan dengan negara-negara tetangganya; ketika negara Blok Timur lainnya mulai menjalin hubungan dengan negara Barat, Albania masih berpegang teguh pada nilai dogmatis totalitarianisme yang hanya berubah sedikit sejak era Stalin.

IMG_5416

You begin to understand Tirana, the first time you try to cross the city’s main road or the boulevard. Dented vehicles coming at each other from all angles, each attempting to shove its way in front of the next. One that you will also notice is that 8 out of 10 of the vehicles here in Tirana are Mercedes! – although most of them are the old model ones. This place is devoid of tourists and it’s all the better experience for it. With that said, here are the several things to see in Tirana:

Anda akan mulai mengenal Tirana saat Anda mencoba menyeberang di sekitar jalan utama atau boulevard. Banyak kendaraan yang saling berebut dari semua sudut, masing-masing berusaha menyusul kendaraan yang ada didepannya. Lucunya, jika Anda perhatikan, 8 dari 10 kendaraan di Tirana adalah Mercedes! – meskipun kebanyakan dari kendaraan tersebut merupakan model lama. Kota ini tidak ramai dengan turis tapi justru hal inilah yang akan memberikan Anda pengalaman tersendiri. Dengan demikian, berikut merupakan beberapa hal yang harus dilihat jika Anda berkunjung ke Tirana:

DCIM106GOPROGOPR1898.

The main square, Sheshi Skënderbej, is the city’s central plaza where all the most important cultural buildings are placed: the 18th century Et’hem Bej Mosque, the National History Museum, the Clock Tower, and of course the statue of Albania’s main national hero, Skanderbeg.

Alun-alun utama, Sheshi Skënderbej, adalah pusat kota di mana bangunan-bangunan penting ditempatkan: Masjid Et’hem Bej dari abad ke-18, National History Museum,Clock Tower, dan tentunya, patung pahlawan nasional utama Albania, Skanderbeg.

IMG_5385

IMG_5533

Not far from the square, you’ll find Bunk’art 2, an ex-nuclear bunker which was transformed into a museum. It reconstructs the history of the Albanian Ministry of Internal Affairs from 1912 to 1991 and reveals the secrets of “Sigurimi”, the political police that was the harsh persecution weapon used by the regime of Enver Hoxha. This museum is dedicated to the victims of Communist terror in Albania – generally anyone suspected of going against or caught trying to leave the state.

Tak jauh dari alun-alun, Anda dapat berkunjung ke Bunk’art 2, sebuah bunker nuklir bekas yang diubah menjadi museum. Museum ini merekonstruksi sejarah Kementerian Dalam Negeri Albania dari tahun 1912 sampai 1991 dan mengungkapkan rahasia “Sigurimi”, polisi politik yang merupakan “senjata penindas” yang digunakan oleh rezim Enver Hoxha. Museum ini didedikasikan untuk para korban teror Komunis di Albania – yang pada umumnya ditangkap karena dicurigai tidak setuju terhadap pemerintah atau tertangkap saat sedang berusaha meninggalkan negara Albania.

IMG_5389

Nearby, there is a Cloud Pavilion which was designed by the renowned Japanese architect Sou Fujimoto as a Serpentine pavilion in 2013. Seems familiar? It’s because you might have seen this at Hyde park, London.

Di dekatnya, terdapat Cloud Pavilion yang dirancang oleh arsitek Jepang Sou Fujimoto yang dikenal dengan karyanya Serpentine pavilion pada tahun 2013. Terlihat familiar? Mungkin karena Anda pernah melihatnya di Hyde Park, London.

Image result for Cloud Pavilion tirana

Walk further and you will see a huge abandoned structure: the Pyramid of Tirana. The pyramid was originally intended as a museum dedicated to Enver Hoxha. Later, the building was rebranded as ‘Pyramid of Tirana’ and it served at times as an exhibition hall. Today the building is no longer in use and covered in graffiti. Still, it remains a local and a tourist gathering place.

Tidak jauh dari sana, Anda akan melihat sebuah bangunan kosong: Piramida Tirana. Piramida ini awalnya dibangun sebagai museum yang didedikasikan untuk Enver Hoxha. Kemudian, bangunan ini diganti namanya menjadi ‘Pyramid of Tirana’ dan dijadikan sebagai aula pameran. Saat ini, bangunan tersebut sudah tidak lagi digunakan dan terihat banyak coretan-coretan graffiti disekitarnya. Namun, bangunan ini tetap menjadi tempat wisata bagi para turis.

Next, make your way to the Blokku Area to spend your evening. This lively block used to be a restricted residential area during the Communist era, where the ordinary citizens weren’t allowed in (they literally needed a permit to enter this part of the capital). Today it’s pretty much the entertainment and shopping destination in the city. The area is packed with boutiques, shops, cafes and restaurant. If you want to try Albanian traditional foods, don’t miss a chance of trying their peppers with cheese or stuffed eggplant.

Selanjutnya, berjalanlah ke Area Blokku untuk menghabiskan sore Anda. Area ini merupakan kawasan hunian para pejabat selama era Komunis, di mana warga biasa tidak dapat memasuki kawasan ini (setiap orang membutuhkan izin untuk dapat memasukinya). Sekarang, area ini dijadikan pusat hiburan di kota Tirana. Kawasan ini penuh dengan bebagai butik, pertokoan, kafe dan restoran. Jika Anda ingin mencoba makanan tradisional Albania, jangan lewatkan kesempatan untuk mencoba peppers with cheese atau stuffed eggplant.

IMG_5428

If you have more time, you can also visit another anti-nuclear bunker built by the communist government. Bunk’Art 1 is a five-floor palace underground, with 106 rooms and an assembly hall. It is now turned into an historical and art centre to show the Albanian life during the 45 years of communism.

Jika punya lebih banyak waktu, Anda juga dapat mengunjungi bunker anti-nuklir lainnya dipinggir kota Tirana. Bunk’Art 1 adalah bunker yang terdiri dari lima lantai di bawah tanah, dengan 106 ruangan dan aula. Bunker ini sekarang dijadikan pusat sejarah dan seni untuk menunjukkan kehidupan di Albania selama 45 tahun di komunisme.

Image result for bunkart 1

Next to Bunk’Art 1, you can take a cable car to the summit of Mount Dajti with an altitude of 1600m for views of all of Tirana. Di samping Bunk’Art 1, Anda bisa naik kereta gantung ke puncak Gunung Dajti dengan ketinggian 1600m untuk meliat pemandangan kota Tirana.

Image result for dajti cable car

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close