Mostar: The Wounds of War

Mostar, like Sarajevo, also suffered under the Bosnian War that took place from 1992 to 1995. Initially, the Croats and Bosniaks (Bosnian Muslims) in Mostar fought in an alliance to expel the Serbs. However, by the end of 1992, tensions between the Croats and Bosniaks grew and it eventually led to a war within a war – the Croat-Bosniak War – which only ended in 1994.

Mostar, seperti Sarajevo, juga menderita dibawah Perang Bosnia yang berlangsung dari tahun 1992 sampai 1995. Pada awalnya, Croats dan Bosniaks(Bosnian Muslims) di Mostar berjuang bersama dalam sebuah aliansi untuk mengusir orang-orang Serbia. Namun, pada akhir tahun 1992, mulai tumbuh tensi antara Croats dan Bosniaks, dan pada akhirnya menyebabkan “perang dalam perang” – the Croat-Bosniak War – yang baru berakhir pada tahun 1994.

fullsizeoutput_404e

Even 20 years after the war, Mostar has not recovered fully from the effects of war. The wounds from Bosnia’s rough past are still very recent to heal. Yet I think Mostar is worth a visit either if you are doing a day-trip from Dubrovnik or visiting the Balkan region.

Bahkan 20 tahun setelah perang, Mostar belum pulih sepenuhnya dari efek perang. Bekas luka dari masa lalu Bosnia masih terlalu baru untuk dapat dipulihkan sepenuhnya. Meski demikian, saya merasa Mostar patut dikunjungi, baik itu day-trip dari Dubrovnik atau jika Anda memang sedang mengunjungi wilayah Balkan.

Stari Most

Let’s start with the most obvious reason why you should visit Mostar and what brought me here in the first place. Stari Most (literally, “Old Bridge”) was built back in the 16th century during the Ottoman Empire, when a single-stone arch span was considered as a major technological advance. The bridge crosses the Neretva River and connects the two parts of the city. It proudly stood there for 427 years.

Dimulai dengan alasan yang paling obvious mengapa Anda harus mengunjungi Mostar dan juga hal yang membawa saya kesini. Stari Most (yang berarti “Jembatan Tua”) dibangun pada abad ke-16 pada masa Kerajaan Ottoman. Pada saat itu, rentang tunggal dari jembatan batu melengkung dianggap sebagai contoh dari kemajuan teknologi. Jembatan ini melintasi sungai Neretva dan menghubungkan dua bagian kota Mostar. Stari Most dengan gagahnya berdiri disana selama 427 tahun.

DSC_0128fullsizeoutput_4096

During the war in 1993, the bridge was completely destroyed by shelling and collapsed into the Neretva river. Years after the destruction of the Stari Most, a spokesman for the Croats admitted that they deliberately destroyed it, claiming that it was of strategic importance. Yet, academics have argued that the bridge held little strategic value and that its shelling was an example of deliberate cultural property destruction or an act of “killing memory”. Reconstruction for the bridge started in September 1997 and was formerly opened in July 2004.

Selama perang pada tahun 1993, jembatan tersebut benar-benar hancur oleh tembakan meriam dan akhirnya roboh ke sungai Neretva. Beberapa tahun setelah penghancuran Stari Most, juru bicara Croats mengakui bahwa mereka dengan sengaja menghancurkannya dan mengklaim bahwa penghancuran tersebut memiliki kepentingan strategis. Namun, para akademisi berpendapat bahwa penembakan jembatan dengan meriam tersebut memiliki sedikit nilai strategis dan kejadian ini merupakan kesengajaan untuk menghancurkan properti budaya atau tindakan “membunuh memori”. Rekonstruksi jembatan dimulai pada bulan September 1997 dan dibuka kembali pada bulan Juli 2004.

64

The surface of the bridge is quite slippery, therefore forget your flip-flop or highheels when making your way across the bridge. And of course, do not jump off the bridge! Stari Most has a long history of being used as a diving platform both by locals and tourists. It is also one of the Red Bull Cliff Diving World Series stages and, unfortunately, the event took place about a week after we’ve left the city so we couldn’t watch it. However, throughout the day, you’re likely to spot rather fit looking men with speedos walking around collecting money. After a certain amount has been collected, you’ll see one of them dive off the bridge.

Permukaan jembatan ini cukup licin, oleh karena itu lupakan sandal atau sepatu heels Anda saat berjalan melintasi jembatan. Dan tentunya, jangan melompat dari jembatan! Stari Most memiliki sejarah panjang dalam penggunaanya sebagai platform untuk terjun baik oleh penduduk lokal maupun wisatawan. Stari Most juga merupakan salah satu tempat diadakannya Red Bull Cliff Diving World Series dan sayangnya, acara tersebut berlangsung sekitar seminggu setelah kami meninggalkan Mostar, sehingga kami tidak dapat menyaksikannya. Meski demikian, sepanjang hari, Anda akan melihat pria dengan celana renang berkeliling untuk mengumpulkan uang. Setelah jumlah tertentu dikumpulkan, Anda akan melihat salah satu dari mereka menyelam dari jembatan.

DSC_0135

Koski Mehmed Pašha Mosque

This mosque was built in 1618. For regular visitors, there will be an entrance fee of €3; or €6 if you also want to climb the narrow winding staircase in the minaret. From the top of minaret, you will get the best 360º view of the city and Stari Most.

Masjid ini dibangun pada tahun 1618. Untuk pengunjung reguler, akan ada biaya masuk sebesar €3; atau €6 jika Anda juga ingin menaiki tangga keatas menara. Dari puncak menara, Anda akan mendapatkan pemandangan 360º terbaik kota Mostar dan Stari Most.

fullsizeoutput_40d7

However, if you come here to pray/perform salah, you can just enter the mosque for free. After I’ve finished my prayer, I was looking at information board about the minaret and suddenly the guard at the mosque offered me and Rizky to climb the minaret for free! 😀

Namun, jika Anda datang ke sini untuk sholat, Anda bisa masuk masjid saja secara gratis. Setelah selesai sholat, saya melihat papan informasi tentang menara dan tiba-tiba penjaga pintu masjid menawari saya dan Rizky untuk naik keatas menara secara gratis! 😀

DCIM106GOPROGOPR1839.

Old Bazaar Kujundziluk

It is an Ottoman-era market that maintains its original atmosphere, thanks to cobblestone roads, narrow streets lined with artisan shops, and Turkish ornamentation. You can find all kinds of metalwork, clothes and souvenir around here. There are also some restaurants and bars that you can visit for some great meals with great price!

Tempat ini merupakan pasar pada era Ottoman yang mempertahankan atmosfer aslinya, lengkap dengan jalanan berbatu dan lorong-lorong sempit yand dipenuhi dengan toko-toko perajin dan ornamen Turki. Anda bisa menemukan berbagai jenis produk logam, pakaian dan suvenir di sekitar sini. Terdapat juga restoran dan bar yang dapat Anda kunjungi untuk makan atau sekedar bersantai dengan harga terjangkau!

DSC_0137

Eat and chill

For dinner, my favourite place was Sadrvan. Considering the decoration of the restaurant, I thought it’s gonna be a bit expensive, but It’s not! I was curious to try pljescavice (minced meat patty), while Rizky sticked with his cevapi.. Believe me, it was THE BEST meat I ate during this trip. Here, a giant portion of meal and a drink would cost you less than €6.

Untuk makan malam, tempat favorit saya adalah Sadrvan. Melihat dekorasi restoran, saya pikir tempat ini akan lebih mahal dibandingkan dengan tempat-tempat sebelumnya, tapi ternyata nggak! Saya memutuskan untuk mencoba menu baru, pljescavice (patty dengan daging cincang), sementara Rizky masih belum move-on dari cevapi.. Selama perjalanan disini, tempat ini yang paling THE BEST. Biaya untuk makan satu porsi besar dan segelas minuman akan dikenakan biaya kurang dari €6.

If you just want to chill or enjoy shisha, go to Oscar cafe (this one was actually recommended by our Bosnian friends that we met at Blagaj Tekke).

Jika Anda hanya ingin bersantai atau menikmati shisha, Anda dapat ke cafe Oscar. Tempat ini merupakan rekomendasi dari teman baru orang Bosnia yang kami temui di Blagaj Tekke.

DCIM106GOPROGOPR1852.48455584

Sniper Tower

As we walked through the boulevard of Mostar, we saw many bombed-out buildings and walls riddled with bullet holes. The boulevard itself was the frontline of the war; if you walk from Stari Most towards Sniper Tower, the Bosniaks part is on your right-hand side, and the Croats part on you left-hand side.

Saat melewati Boulevard di Mostar, kami melihat banyak bekas bangunan yang dibom dan dinding-dinging bangunan, bahkan yang masih digunakan, dipenuhi oleh lubang bekas terkena peluru. Boulevard itu sendiri merupakan frontline/garis depan pada waktu perang; jika Anda berjalan kaki dari Stari Most menuju Sniper Tower, bagian Bosniaks berada di sisi kanan, dan bagian Croats berada di sisi kiri Anda.

fullsizeoutput_404d.jpegfullsizeoutput_4049

The Sniper Tower is used to be a bank. Positioned along the frontline during the Bosnian War, the building was used as a base for snipers who would hide in the tower to take aim at their targets below. It is now decorated with street arts and completely up for exploration. Although it’s not encouraged or exactly permitted, the building is fairly easy to enter – simply jump over the back wall. We did not enter the building, but I went to the back wall, there was a broken ladder and some stones to help people getting in.

Sniper Tower ini dulunya merupakan gedung bank. Berhubung letaknya yang berada di frontline selama Perang Bosnia, bangunan tersebut digunakan sebagai basis oleh sniper/penembak jitu yang bersembunyi di menara sambil menembaki sasaran mereka di jalanan. Sekarang ini, Sniper tower penuh dengan street arts dan sering dimasuki oleh turis. Meski tidak dianjurkan, atau lebih tepatnya tidak diizinkan, bangunan ini cukup mudah untuk diakses – cukup melompati dinding belakang gedung. Kami tidak memasuki gedung ini, tapi saya pergi ke dinding belakang dan saya melihat ada tangga kayu yang telah rusak dan beberapa tumpukan batu untuk membantu orang masuk.

fullsizeoutput_403b

Blagaj Tekke

This small town of Blagaj is about 12 km from Mostar and only 15-minute drive or 30-minute bus ride away. The Blagaj Tekke is considered to be one of Bosnia and Herzegovina’s most holy and ancient sites which was established around 1520 as the Dervish monastery. If you want to go by bus, you can wait at a bus stop at Spanish Square/Španski Trg and take Bus #10, #11 or #12 headed to Blagaj. Full details about this day trip can be seen at Day Trip from Mostar: Blagaj Tekke.

Blagaj merupakan kota kecil yang berjarak sekitar 12 km dari Mostar dan hanya berjarak 15 menit dengan taksi atau 30 menit naik bus. Blagaj Tekke dianggap sebagai salah satu situs Bosnia dan Herzegovina yang paling suci dan kuno yang didirikan sekitar tahun 1520 sebagai Dervish monastery. Jika Anda ingin naik bus, Anda tinggal menuju ke halte bus di Spanish Square/Španski Trg dan naik Bus #10, #11 atau #12 menuju Blagaj. Rincian tentang perjalanan ini dapat dilihat di Day Trip dari Mostar: Blagaj Tekke.

DCIM106GOPROGOPR1822.

Just before we were about to leave the sites, a guy greeted us and immediately asked “are you guys Indonesian?”. We were quite surprised considering that people here usually thought we came from Turkey or other countries but Indonesia. His name is Ashmir, it turned out that he used to live in Indonesia for about a year – that’s why he could tell that we’re Indonesians. He then offered us to have some drinks together with his friends. Since our bus was going to depart in half an hour, we thought why not? – and I’m glad we did!

Beberapa saat sebelum kami meninggalkan Blagaj Tekke, seseorang tiba-tiba menyapakami dan langsung bertanya “are you guys Indonesian??”. Kami cukup kaget mengingat dalam perjalanan kali ini biasanya orang mengira kami berasal dari Turki atau negara lainnya selain Indonesia. Akhirnya kita berkenalan dengan Ashmir, ternyata dia pernah tinggal di Indonesia sekitar satu tahun – itulah kenapa dia tahu kalau kita orang Indonesia. Dia kemudian menawari kami untuk minum bersama teman-temannya. Berhubung bus kami harus menunggu bus selama setengah jam, kami pikir kenapa tidak? – dan saya sangat senang dengan keputusan ini!

DSC_0169

Ashmir is a German-born Bosnian who live in Germany and was on vacation with his fiancee, Aila, and her friend, Sumayya. We talked for about one hour mainly about Ashmir’s time in Indonesia and the war, and they ended up drove us back to Mostar!

Ashmir adalah orang Bosnia yang lahir dan tinggal di Jerman dan sedang berlibur dengan tunangannya, Aila, dan temannya, Sumayya. Kami ngopi sambil ngobrol-ngobrol mengenai sewaktu ia tinggal di Indonesia dan juga tentang perang. Mereka pun malah jadi mengantarkan kami balik ke Mostar!

DCIM106GOPROGOPR1836.

On our way, we stopped by at the house of Aila’s parent to pick some stuffs up. They served and asked me and Rizky to taste fig – this was the first time I tried the fruit, and I liked it so much! Knowing that I ate a lot of them (it was only 3 or 4 though), they immediately took a plastic bag and gave me like half of the rest of the fruits – and they insisted! I mean, why the locals here were super kind?!

Dalam perjalanan, kami mampir di rumah orang tuanya Aila untuk mengambil beberapa barang. Mereka menyajikan dan menyuruh saya dan Rizky untuk mencoba buah fig – ini adalah pertama kalinya saya mencobanya, dan saya sangat menyukainya! Saat mereka mengetahui kalau saya makan banyak (cuma 3 atau 4 buah aja sih), mereka langsung ambil plastik dan memeri saya setengah dari semua buah fig yang ada di mangkuk besar – dan mereka bersikeras supaya saya mau menerimanya! Saya sampai heran sendiri, kenapa penduduk disini super baik?!

fullsizeoutput_40ca

Of course I met a lot of kind people throughout my travelling experience, but so far Bosnians are indeed the warmest people I’ve ever met! Well, I couldn’t complaint about getting too much hospitality, could I? 🙂

Tentu saja saya bertemu banyak orang baik dalam pengalaman travelling saya, tapi sejauh ini orang Bosnia merupakan the warmest dari yang pernah saya temui! Well, saya tidak bisa mengeluh tentang mendapatkan terlalu banyak keramahtamahan, bukan? 🙂

DCIM106GOPROGOPR1834.

1 thought on “Mostar: The Wounds of War

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close